Monday, November 6, 2017

Think Creative Day 5

Bismillahirrahmaanirrahim

Hari Jumat kemarin Khayla tidak masuk sekolah karena sakit telinga. Ternyata berawal dari tenggorokannya yang radang.

Ternyata dihari itu, ada pembuatan
portfolio mengenai pengalaman bermain permaina tradisional. Biarpun muridnya sekolah atau tidak, semuanya harus mengumpulkannya dihari Senin.

Tidak terlalu banyak sih, karena dari selembar kertas HVS dibagi dua, lembar pertama gambar, lembar kedua tulisan pengalamannya. Saya dan suam sama sekali tidak membantu, karena kami beedua tidak.bisa menggambar. Kami yakin tanpa dibantu pun khayla bisa menyelesaikannya sendiri, karena dia paling jago menggambar...serumah 😂😂. Dalam hitungan menit, portfolionya sudah selesai. Tulisannya sedikit, satu atau dua kalimat. Tapi gambarannya lumayan. Saya jadi envy dan dalam hati bertanya kenapa saya tidak bisa menggambar dengan bagus 😅. Yaahh...terima saja lah, karena kemampuan dan kreativitas orang kan berbeda-beda 😊

Sunday, November 5, 2017

Think Creative Day 4

Bismillahirrahmaanirrahiim

Hari ini bazaar hari ke-2. Tapi sebelum pergi ke Technopark, harus beresin dulu kerjaan yang kemarin tertunda.

Selesai shalat Subuh, masak nasi di rice cooker. Pinjem sepeda khayla lalu pergi ke tukang sayur. Tukang sayur satu ini memang unik. Sebelum jam 5 sudah berjualan dan ibu-ibupun sudah ramai memilah milih apa yang mau dibeli. Apalagi karena harganya terbilang murah. Kesiangan datang, sudah habis deh, yang kita ingin beli.

Pulang belanja, lanjut masak. Selain buat sarapan, mau bikin chicken katsu juga buat bekal dibazaar nanti..maksudnya biar ngirit, ga perlu beli-beli makan 😁😁.
Selesai masak, lanjut bilas cucian, ada seragam khayla yang mau dipakai besok.
Beres semua, bisa pergi ketempat bazaar dengan hati tenang.

Seperti kemarin, miftah ikut bersama saya. Tidak lupa juga bawa mainannya. Oiya, dibooth bazaar, saya tidak sendiri, karena patungan dengan Teh Echa, sesama member IIP juga. Bedanya kalau saya jual jilbab dan aksesoris anak, Teh Echa jual mainan anak dan buku. Melihat mainan yang dijual, bikin saya tergoda juga 😆. Saya pilih mainan yang bisa anak berkreasi tapi harganya tidak terlalu mahal. Melihat bentuk-bentuknya, saya tertarik juga untuk bikin sesuatu dari mainan tersebut. Dikertas labelnya ada contoh dengan bentuk motor, anjing, truk, helicopter dll. Setelah saya coba, ternyata tidak mudah juga membuatnya hanya dengan melihat contoh tanpa ada step by stepnya. Awalnya bisa tapi lama-lama blank, ga tau harus dibagaimanakan lagi. Miftah juga tertarik dengan mainan itu. Serius banget mainnya. Tanpa diajari, dia mulai bereksplorasi dengan potongan-potongan balok yang ada. Awalnya dia kesulitan tapi lama-lama nampaknya dia sudah bisa "menaklukan" balok-balok tersebut. Aahh senangnya... 😊



Saturday, November 4, 2017

Think Creative Day 3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Walaupun menjalani online shop, tapi saya juga senang kalau ada kesempatan untuk ikut bazaar. Rasanya beda berjualan online dengan berjualan langsung dimana kita bisa bertatap langsung dengan calon customer.

Hari ini kebetulan saya sudah mendaftar ikut bazaar didaerah Baros Cimahi. Biar bayarnya nggak terlalu mahal, saya tawarkan di WAG RB Cimahi barangkali ada yang mau patungan bayar stand bazaarnya. Alhamdulillah gayung bersambut. Teh Resa yang tinggalnya tidak jauh dari rumah saya, bersedia. Tapi hari ini Teh Resa datangnya siang karena ada perlu dulu.

Saya dan suami bagi-bagi tugas jaga anak. Khayla dengan Ayah, Miftah dengan saya. Karena waktu dibazaar cukup lama, saya berinisiatif untuk membawa mainan miftah. Kereta kayu dengan relnya, balok, mobil pemadam kebakaran, dan bis Tayo. Tidak lupa juga saya membawa buku tulis dan pensil warna. Saya hamparkan kain bali di pojok stand agar dia bisa main dilantai. Yang tidak kalah penting adalah: makanan! Selain mie goreng untuk makan siang, aja juga cemilan dari toko kue.

Oiya entah kenapa, begitu pagi tadi sampai ditempat bazaar, standnya belum semua jadi. Baru sebagian kecil saja yang sudah bisa menggelar dagangannya. Sedangkan saya, standnya pun tidak ada, nggak tau kebagian dimana 😂😅😆. Tapi Alhamdulillah bisa bersebelahan dengan stand milik Teh Mira M Jaya yang punya produk khas yaitu Koko Loreng.

Sambil menunggu mejanya datang, saya bermain dengan Miftah. Main kereta, belajar angka dan huruf, melipat kertas dan main dengan pensil warna. Kita main tebak-tebakan. Saya bagian memggambar, miftah yang menebaknya. Hebat,  miftah bisa menebak dengan benar gambaran saya yang seadamya 😂😂

Alhamdulillah  hari ini miftah sangat kooperatif. Beaok masih ada 1 hari terakhir. Belum tahu miftah ikut saya atau tidak, tapi dia bilang sih dia mau kalau pergi lagi ke tempat bazaar 😊

Friday, November 3, 2017

Think Creative Day 2

Bismillahirrahmaanirrahiim

Di WAG RB Boga IIP, ada challenge bagi membernya untuk membuat Churros. Berhubung saya belum pernah bikin, jadinya tertarik juga ikut challenge. Apalagi karena bahan-bahannya terbilang cukup mudah dicari dan dan biasanya jadi penghuni didapur 😊.

Selesai memasak adonan utama, saya pergi menjemput khayla pulang les menggambar. Tadinya adonan itu mau diberi telur dan langsung digoreng sepulangnya ke rumah. Tapi itu baru niat, karena saya kan harus masak untuk makan malam. Setelah ada waktu luang, barulah saya kembali ke adonan churros tadi. Hee...harusnya sih tidak boleh terlalu lama yaa adonannya didinginkan sebelum diberi telur. Tapi karena sudah terlanjur bikin, yowis lah... khayla menawarkan diri untuk membantu, tapi karena adonannya yang super lemgket, jadinya tidak saya ijinkan Maafkan yaa

Deg-degan juga liat adonannya yang sangat kental dan sudah diaduk. Huaahh...jangan-jangan gagal nih bikinnya.. apalagi karena ternyata plastik segitiganya tidak ada sehingga sulit untuk membentuknya. Sebagai percobaan, digorenglah beberapa buah, itupun dengan bentuk yang pendek-pendek. Hmm..rasanya lumayan juga, not bad laahh...apalagi dicocol ke saus coklat 👍. Eh tapi saya belum pernah makan churros, jadi nggak tau deh, churros yang saya bikin ini enak atau nggak 😁.

Karena tidak ada plastik segitiga dan rada malas untuk membelinya, saya mencoba mencari alat yg bisa menggantikan fungsi plastik. Tapi nggak nemu. Akhirnya saya simpan dulu adonan tersebut dikulkas. Subuhnya saya coba membentuk adonan hanya dengan spuit saja. Kalau lebaran, saya juga biasa hanya menggunakan spuit untuk membentuk kue sagu. Saya pikit hal semacam itu tidak terlalu susah dipraktekkan.
Tapi ternyata adonannya sangat lengket biarpun sudah dimasukkan ke kulkas. Daripada mubazir jika adonan ini tidak terpakai, maka saya paksakan untuk membentuk churros walaupun tangan saya jadi belepotan  😂. Sehabisnya adonan saya masukkan lagi ke kulkas untuk digoreng pagi harinya.

Biarpun bentuknya tidak indah, tapi miftah masih bilang "enak".. yah syukurlaahhh 😊. Next, mau cari semprotan adonan kue, biar ga perlu pake plastik segitiga lagi 😁

Thursday, November 2, 2017

Think Creative Day 1

Bismillahirrahmaanirrahiim

Beberapa hari ini Khayla mengeluh kalau badannya gatal-gatal. Memang siihh dia punya alergi, walaupun kami belum tahu pasti apa saja alergennya karena memang belum di tes. Anehnya, gatal-gatal kali ini berbeda dengan gatal saat alergi. Biasanya kan kalau alergi, kulitnya suka ada bintik-bintik merah. Nah kalau yang sekarang, tidak begitu. Saya juga nggak tau itu apa. Tadinya mau nanya-nanya lewat WA ke orangtua teman sekelasnya khayla, tapi keburu lupa terus. Ujung-ujungnya malah jadi males 🙈.

Pak Suami sih beranggapan kalau gatalnya itu karena debu. Spontan beliau langsung ngambil vacuum cleaner dan menyedot debu yang ada dikasur. Sebenarnya saya juga pengen ngejemur kasur, tapi sekarang rada susah dapat sinar mataharinya, berhubung digarasi kami sudah dipasang canopy. Selain kasur, beliau juga bilang kalau tembok yang sudah rusak, bisa jadi salah satu penyebabnya. Sudah lama tembok dikamar kami rusak. Semen-semennya mudah berjatuhan kalau sedikit saja terkena senggolan. Dan hal ini terjadi juga dirumah tetangga kami, bukan kami saja. Untuk memperbaiki tembok rusak tersebut, saya sih pengennya ya ditembok ulang. Sekalian ngebangun dan bikin kamar buat khayla dan miftah. Yaaa judulnya mah, ngerenovasi rumah 😂. Tapi kan tidak semudah itu ya renov rumah teh..harus banyak uang dulu 😅

Entah dapat inspirasi darimana, Pak Suami ngajak ke Borma buat beli karpet. Saya heran, karpet buat apa? Katanya buat nutupin tembok-tembok yang rusak itu. Hah?! Saya tercengang sambil membayangkan, gimana cara masanginnya? Dipaku? Emang temboknya ga akan tambah rusak? Tapi suami tetap bersikeras dengan idenya itu. Ya terserah lah..untuk kali ini saya ngikut aja 😁

Karpet yang dimaksud oleh Pak Suami adalah kain atau taplak plastik bergambar yang biasa digunakan sebagai taplak meja makan. Pilihan motifnya tidak banyak, hanya ada kotak-kotak dan satu lagi gambar buah-buahan. Pilihan pun jatuh pada taplak bermotif buah-buahan. Selain taplak, Pa Suami juga beli semacam pipa atau tongkat yang cukup elastis. Nggak tau deh namanya apa, nggak tau juga mau dipakai buat apa 😆.

Ketika ditanya mau beli taplaknya berapa meter, saya jawab saja, "3 meter". Eh ternyata itu kebanyakan, jadi masih ada sisa. Suami pun mulai bekerja. Dan hasilnya, tadaaaaa...lumayan laahh..mengingat misinya adalah menutup tembok yang rusak 😁. Gambar disertakan dibagian akhir.

Jadi taplak plastik tadi dikaitkan ke pipa elastis, dilubangi sedikit untuk tempat paku, dan pakunya ditempel ke tembok. Lucu sih sebenernya, liat motifnya saya malah jadi keingetan sama dapur 😂.
Yang penting mah, tembok jeleknya nggak keliatan ya?! 😁.

Berhubung ada sisa taplak, saya jadi punya ide juga. Sofa bed dirumah sudah rusak (ya ampun, dirumah kita banyak banget ya yang rusak-rusak?!). Kulit oscarnya sudah sobek cukup besar, sampai-sampai kita bisa melihat busa dan kain dacron didalamnya.

Akhirnya saya lipat taplak itu jadi dua dan saya simpan di sofa bed untuk menyembunyikan bagian yang sobek 😆😆. Bagusnya sih genti aja ya kain oscarnya, tapi berartir UUD kaann, ujung-ujungnya duit 😂😂. Untuk sementara mah cukup lah begini..ke depannya mah mudah-mudahan kiat diberi keluasan rejeki biar suatu saat nanti bisa tercapai keinginan untuk renov rumah 😁





Wednesday, November 1, 2017

Pengalaman Belajar Kreativitas di IIP

Bismillahirrahmaanirrahiim

Surprise surprise!!

Rasanya di awal Cawu ke-3 ini banyak surprisenya. Dimulai dengan diberikannya e-book oleh Fasil yang kalimat awalnya saja sudah bikin tertegun. Katanya salah kalau ada pernyataan "Menumbuhkan kreativitas anak usia dini". Karena ternyata anak itu sudah  terlahir kreatif, penuh rasa ingin tahu yang besar, tidak mengenal tidak mungkin, dan tidak takut salah.

Katanya lagi "Kita mematikan kreativitas mereka". Yang dimaksud dengan kita saya pikir merujuk pada orang tua atau orang dewasa yang berada didekat anak. Ah kalau mau jujur, sebenarnya saya tidak ingin dikatakan sebagai orang tua yang mematikan kreativitas anak. Rasa-rasanya semua orangtua menginginkan anaknya jadi yang terbaik disegala hal. Kalaupun iya orangtua mematikan kreativitas, mungkin karena orangtua itu sendiri yang masih kurang ilmu sehingga menjadi kurang kreatif. Sehingga tanpa sadar, ada perbuatan atau perkataan kita yang ternyata mematikan kreativitas anak.

Yang membuat saya kembali tertegun adalah kalimat " Kesalahan berikutnya adalah mengirim anak ke sekolah". Bukannya sekolah itu sudah ada sejak lama? Bukannya sekolah itu tempat kita mencari ilmu? Kok bisa mengirim anak ke sekolah itu salah? Apa harus Homeschooling? Saya pikir tidak semua orang cocok dengan sistem Homeschooling.
Kalimat tadi masih ada sambungannya. Ternyata yang salah itu bukan sekolahnya, tapi ada pada sistem. Kalau begitu, berarti orangtua harus pandai-pandai mencarikan sekolah yang sistemnya benar agar kreativitas anak tidak mati. Dan sebagai gantinya, orangtua harus siap merogoh kocek lebih dalam agar anaknya bisa bersekolah di sekolah tersebut.

Sayang juga kemarin malam saya tidak ikut diskusi di WAG, jadi ga dapat aura yang keluar saat diskusi berlangsung. Jam 2 dini hari saya baru megang HP lagi dan membaca chat-chat yang ada.

"Apa yang teman-teman pikirkan tentang kteativitas?"
Teman-teman ada yang menjawab ide unik, cara yang berbeda, selalu banyak ide, aktivitas unik, mencipta hal baru, modifikasi dari yang sudah ada, berpikir berbeda.

Menurut saya pribadi kreativitas adalah kemampuan berpikir yang dimiliki seseorang semenjak dia lahir dan sifatnya unik, berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.

Mata saya tertuju pada gambar  yang bentuknya seperti puzzle. Teman-teman ada yang mengatakan kalau itu potongan puzzle. Ada juga yang bilang kalau itu adalah kata "LIFT". Lift apa? Lift yang bagaimana?, tanya saya dalam hati. Bahkan saya putar-putar HP untuk mencari yang katanya lift itu. Saat itu saya merasa menjadi orang yang paling bodoh dan sangat tidak kreatif 😂. Lalu pagi harinya saat akan menyetrika, saya lihat lagi gambar  tersebut dan mata saya langsung melihat kata "lift". Oohh ini toh yang dimaksud 😆. Ternyata saya lebih fokus melihat ke bagian berwarna hitam sehingga tidak menemukan kata "lift" yang berwarna putih 🙈.
Nah kenapa setiap orang melihat gambar tersebut berbeda? Teman-teman ada yang menjawab karena beda fokus, dan atau beda cara pandang.

Lalu muncul materi ebook yang bertuliskan "mari kita berpikir kreatif", ubah fokus, geser sudut pandang kita.
Begitupun dalam mendampingi anak-anak, kita perlu memiliki berbagai sudut pandang kreatif ketika melihat sebuah aksi anak-anak.

"Mari kita berpikir kreatif", Don't assume. Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak, maka jangan buru-buru membuat pernyataan. Perbanyaklah membuat pertanyaan agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara CLEAR dan tugas kita mengklarisipasi saja (CLARIFY).

Saya pribadi setuju dengan pernyataan tersebut, tapi adakalanya anak belum mengerti atau belum memahami keinginan atau idenya itu baik atau tidak. Maka sebagai orangtua kita berikan pedapat atau alasan yang masuk akal yang dapat mereka terima.

Muncul lagi materi baru, "Outside the box thingking", buka kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkan dia berpikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami.

Dibagian ini saya kembali tertegun. Ternyata pengalaman orangtua belum cukup untuk dijadikan pembelajaran. Kita harus membiarkan mereka berpikir seperti yang mereka mau dan kita harus mau menerima pemikiran mereka tersebut.

Materi berikutnya tentang "Proses kreativitas". Ada yang disebut Evolusi: ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya.
Sintesis: Dua atau lebih ide yang ada digabungkan jadi satu ide baru lagi.
Revolusi: benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada.

Katanya inilah proses kreativitas yang harus kita lakukan bersama dengan anak-anak. Hmm..sudahkah kita melakukannya? Kalau saya pribadi sih sepertinya belum.. 🙈

"Menjadi ibu kreatif", apa saja yang menghambat anda selama ini dan bagaimana solusinya?

Teman-teman digrup memberikan jawaban mental block, terjebak rutinitas, tidak PD, moody, tidak berani mencoba, terlalu fokus terhadap pendapat SAYA.

Ternyata mereka dapat dengan mudah menjawab hambatan yang ada. Tapi bagaimana dengan solusinya? Apakah mereka sudah tahu harus bagaimana? Apakah mereka akan mencari solusinya dan menjalankannya?


Sebuah kutipan dari Ibu Septi, "Anak-anak secara fitrah sudah lahir kreatif, kitalah yang harus mengubah diri agar layak mendampingi para creator dijamannya nanti".

Saya rasa ini akan jadi PR besar bagi kami semua. Mudah-mudahan Allah mampukan dan pantaskan kami jadi orangtua yang terus belajar memperbaiki diri.

Sumber bacaan:
- Referensi yang diberikan oleh Fasilitator
- Pendapat teman-teman selama diskusi bersama Fasilitator
- Sudut pandang saya pribadi

#kelasbundasayang
#institutibuprofesional
#thinkcreative


Saturday, October 7, 2017

Aliran Rasa Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah kali ini dapat materi tentang finansial bagi anak. Dengan materi ini, jadi bisa 'memaksa' anak untuk mau belajat membuat catatan keuangan sederhana dari uang yang dia dapatkan. Karena saya sendiri menyadari kalau uang saku yang diberikan setiap harinya tidaklah banyak. Teman--temannya disekolah mungkin bekalnya bisa 2 sampai 4 kali lipat dari bekal khayla. Tapi selalu saya ingatkan, jangan selalu melihat ke atas. Bersyukur masih diberi uang jajan. Tinggal pintar-pintarnya dia saja untuk membelanjakan uang miliknya. Toh, tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki. Dan tidak semua yang kita inginkan adalah hal kita butuhkan. Ini harus ditanamkan terus terutama kepada miftah yang usianya masih balita. Dia sudah punya banyak keinginan. Dia bilang ingin punya baju, celana, jaket dan sepatu bergambar boboiboy galaxy. Kalau saya tanya darimana uangnya, miftah bilang "kan udah, ditabung..". Memang dia sudah punya  tabungan sendiri dan sepertinya dia sudah mengerti untuk apa tabungan itu.
Memang tidak mudah ya mengatur finansial itu. Kadang banyak godaannya juga 😂. Tapi bagaimanapun orangtua harus memberikan teladan yang baik agar dicontoh anak-anaknya. Pakai uang sesuai kebutuhan. Jangan lupa sisihkan untuk tabungan dan sedekah. Karena rejeki itu pasti tapi kemuliaan harus dicari